Nada Fatimah, Merintis Karier di Dunia Kecantikan; Dari Mimpi Semasa Kuliah hingga Sukses di Industri

The Luxury Reports spotlights the movers and shakers in fashion, beauty, and lifestyle, any public figures who inspire with their journeys and achievements. We delve into their stories, uncovering the passion and perseverance behind their success. And of course, we get an exclusive peek into their favorite bag. Kicking off this series, we begin with Nada Fatimah, the Brand Director of Lacoco & Glow Better, part of AVO Innovation & Technology.

Nada & Education background and her first step into the beauty industry.

Aku kuliah di Universitas Gajah Mada jurusan Manajemen dan lulus di tahun 2017. Dari tahun pertama kuliah, selalu suka banget sama pelajaran marketing! Saat itu aku jadi sadar kalau sebelumnya bukannya aku nggak suka belajar, tapi belum menemukan ilmu yang disuka aja. Begitu ketemu pelajaran marketing, langsung cinta banget dan sampai lulus ambil konsentrasi di marketing juga. Keinginan untuk kerja di industri kecantikan itu muncul pas jadi mahasiswa di tahun 2015-2016 karena sering nonton makeup Tutorial di YouTube! Nonton banget era YouTuber kaya Nikkie Tutorials, GlamLifeGuru, dan kemudian mulai ada YouTuber Indonesia. Suatu hari aku struggling banget sama jerawat dan belajar lewat Skincare 101 di FD YouTube channel dan mulai mempelajari lebih jauh tentang skincare.

Akhirnya, pas masih kuliah semester 5 aku internship di AVO Innovation & Technology yang memang basisnya di Yogyakarta juga. Setelahnya, aku diajak gabung semi magang sambil kuliah, bantu marketingnya Avoskin & pilot project brand Looke. Lalu aku break 6 bulan dari AVO untuk fokus menyelesaikan skripsi. Sempat ikut juga rekrutmen dari kampus untuk kerja di multinational beauty company, mengikuti prosesnya sampai fase FGD. Setelah lulus, aku diajak balik lagi ke AVO untuk pegang Lacoco. Akhirnya secara resmi bergabung dengan AVO di 2018. Long story short, kayanya memang jodohnya di AVO 😀

Tell us your skincare routine, please! (I had to jump to this question right away because i couldn’t help but noticed how glowing her skin was during our breakfast session two weeks ago)

Definitely will be bias jawabannya karna full of AVO products! Karena aku sekarang ini lagi travel, yang selalu wajib aku bawa adalah:
– First cleanser di mana selama 2 tahun terakhir aku pakai prototype produk yang belum launch.
– Lacoco Daily UV Counter SPF 50 PA++
– Lacoco Aloe Vera Soothing mist yang multifungsi.
– Lacoco 2% Watermelon Glow Mask!

Soothing mist dan sleeping mask penting banget untuk dibawa karena biasanya pas travel kulit aku lebih kering, apalagi kalau pas lagi musim dingin.

Now let’s talk about bag. What was your first designer bag? And what’s next on the wishlist?

First dream bag yang aku beli adalah Balenciaga Le City bag! Nggak ada size atau warna khusus yang dipengenin, cuma selalu suka aja setiap lihat ada yang pakai. Sayangnya akhir-akhir ini aku jarang pakai karena kontroversi brandnya, tapi tetep disayang dan simpan karena memory sebagai first luxury bag berkesan sekali. Apalagi tas ini sering dipakai kemana-mana dan banyak menemani aku ke first experience lainnya.

Setahun belakangan ini lagi tertarik banget dengan brand lokal di negara yang lagi aku kunjungi, terutama di kota-kota kecil! Misalnya waktu ke Firenze, Italia aku jadi tertarik untuk belanja parfum dari brand-brand artisanal karena punya ciri khasnya sendiri dengan craftsmanship yang sangat baik. Baju pun begitu, tertarik sekali untuk lihat-lihat desainer lokalnya yang masih memproduksi sendiri bajunya dan jumlahnya pun masih terbatas. Sekarang juga lagi ngulik banget local brand Indonesia yang lebih high-endnya. Termasuk local luxury brand Indonesia juga, lagi tertarik banget untuk cari lebih banyak pilihan lagi. Wishlist sekarang adalah tas Jetalla Aneiu yang sangat exclusive dan craftmanshipnya super top notch! Pengen banget yang warna dark green kombinasi baby pinknya.

You seem to love traveling. What does travel mean to you?

Yes, karena buat aku personally, travel jadi salah satu cara untuk lebih bonding sama keluarga. Di keseharian kita pasti semua punya rutinitas dan kesibukannya masing-masing. But during traveling, we spend almost 24 hours together, melakukan aktivitas yang nggak biasa kita lakukan di Indonesia. Sebenarnya hal-hal simple aja sih tapi terasa mewah sekali seperti jalan kaki dan duduk-duduk di taman, strolling around local market, melihat pemandangan dan suasana baru. Dengan exploring tempat baru bersama kita jadi unlocking new milestone bersama juga yang bikin kita jadi lebih dekat lagi. It’s also a perfect way to recharge.

So far South Korea jadi destinasi favorit aku, karena menyenangkan sekali dari semua aspek. Makanan, pemandangan, kombinasi yang pas antara modern dan kebudayaan tradisionalnya. Belanja makeup dan fashionnya pun selalu seru.

You seem to have it all; a successful career and a family. For a woman from an Arabian background, especially in a smaller, more conservative city, this might seem unconventional. What’s your advice for those struggling to balance it all?

Aku sendiri selalu merasa sangat beruntung bisa punya kesempatan untuk terus menggali potensi diri dan berkarya di luar peran aku sebagai istri dan ibu. Tentunya ini bisa terjadi karena aku punya support system yang sangat luar biasa. Walaupun aku dari keluarga Arab yang cukup konservatif, orang tua aku tetap menomorsatukan pendidikan dan pengalaman untuk aku. Memang sih tetap ada batasannya seperti nggak boleh jauh dari keluarga. Untungnya aku tinggal di Jogja yang punya pilihan kampus favorit. Bergabung di AVO yang ada di Jogja juga pilihan tepat karena aku jadi mempunyai kesempatan dan pengalaman yang istimewa sambil tetap dekat dengan keluarga.

Di awal karir, masih sangat ada limitasi dari orang tua, karena faktor budaya dari keturunan Arab juga yang biasanya lebih membatasi ruang gerak anak perempuan. Cara yang aku lakukan demi meyakinkan keluarga untuk mendukung aku adalah dengan menunjukkan dampak positif dari pekerjaan aku baik untuk aku sendiri maupun orang lain. Bukan sekedar jabatan di kantor tapi bagaimana pekerjaan ini bikin aku jadi lebih berdaya, mendorong rasa percaya diri aku, memberi banyak kesempatan dan belajar dari orang-orang hebat. Melihat gimana passionate dan semangatnya aku di pekerjaan aku, pelan-pelan orang tua jadi lebih mendukung dan melonggarkan limitasi yang tadinya diberikan. Tentunya sepanjang prosesnya aku juga sangat menjaga kepercayaan mereka, dan memastikan hal-hal yang membuat mereka khawatir tidak terjadi. Semakin dewasa, aku juga sadar sebetulnya limitasi yang mereka berikan murni karena itu yang mereka rasa baik untuk aku sendiri. Tapi setelah mereka ternyata pekerjaan ini membuat aku lebih baik dan bahagia, merekapun juga mendukung penuh.

One last question. And this is for the gen z out there. What do you look for in a team?

Setelah beberapa tahun membentuk dan membesarkan tim, sudah ketemu berbagai macam team member dengan karakternya masing-masing, bisa aku simpulkan kalau the best kind of team member adalah yang punya motivasi tinggi dari dalam dirinya sendiri. Kemauan untuk terus belajar dan selalu memberikan yang terbaik itu penting banget. Hal-hal teknis selalu bisa untuk dipelajari, pengalaman di dunia yang sama tidak selalu berarti tanpa kendala, tapi orang yang punya motivasi tinggi dari dalam dirinya selalu bisa bekerjasama dengan baik di mana pun posisinya dan dalam kondisi apapun. Orang yang mempunyai motivasi tinggi juga biasanya memberi energi yang baik juga untuk orang sekitar, termasuk untuk atasannya.

Thank you for your time, Nada 🙂

What do you think?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Topics
SOCIALS
Latest Reports
RECENT COMMENTS
  1. Lucky
  2. Picha Putri